Inilah Sekolah Robotik Pertama di Indonesia!
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Robotika adalah satu cabang teknologi yang berhubungan dengan desain, konstruksi, operasi, disposisi struktural, pembuatan, dan aplikasi dari robot.[1] Robotika terkait dengan ilmu pengetahuan bidang elektronika, mesin, mekanika, dan perangkat lunak komputer.[2]
Pemikiran tentang pembuatan mesin yang dapat bekerja sendiri telah ada sejak Era Klasik, namun riset mengenai penggunaannya tidak berkembang secara berarti sampai abad ke-20 [3]
. Kini, banyak robot melakukan pekerjaan yang berbahaya bagi manusia
seperti menjinakkan bom, menjelajahi kapal karam, dan pertambangan.
KOMPAS.com - Semakin majunya teknologi di era ini
membuat banyak institusi pendidikan tinggi berlomba-lomba menciptakan
jurusan berbasis teknologi komputer. Namun, lain halnya dengan
Universitas Bina Nusantara (Binus University) yang mendirikan Binus ASO
School of Engineering (BASE).
BASE merupakan program joint venture antara ASO College, salah satu sekolah robotik terkemuka di Jepang, dengan Binus University. Program kerjasama ini membuat kedua institusi pendidikan itu memiliki peran yang lebih dari sekadar kerjasama.
"Joint venture ini merupakan proses 'perkawinan' antara ASO College dan Binus. Jadi, ada tabungan bersama yang berasal dari gabungan pendanaan keduanya," ujar Ho Hwi Chie, Dean of Binus ASO School of Engineering, di Kampus Kijang Binus University, Rabu (10/12/2014).
BASE sendiri merupakan satu-satunya sekolah untuk jurusan bidang robotik di Indonesia. Sekolah ini mencoba menggabungkan antara mesin dan komputer dalam satu produk engineering.
Sekolah tersebut memiliki dua program studi utama, yakni Automotive Robotic Engineering dan Product Design Engineering. Kedua program studi itu sama-sama fokus pada bidang teknik, tapi berbeda pada eksekusinya.
"Automotive robotic engineering lebih mempelajari otomatisasi dalam bidang kendaraan bermotor, sementara product design engineering menciptakan karya-karya fungsional yang membantu dalam kehidupan manusia tapi dengan harga ekonomis," jelas Ho Hwi Chie.
Mahasiswa BASE program studi automotive robotic engineering berusaha membuat benda mati, dalam hal ini kendaraan bermotor, memiliki “pikiran” atau intelegensia. Salah satu proyek yang tengah mereka kerjakan adalah sebuah prototipe mobil yang mampu melambatkan lajunya dengan otomatis.
"Kita sedang membuat prototipe mobil yang apabila melanggar marka jalan, maka ia akan otomatis melambat. Ini berfungsi untuk mengurangi kecelakaan ketika mengantuk karena mobil akan mengurangi kecepatannya dan pengendara mobil akan bangun begitu sadar mobilnya melambat," jelas Ho Hwi Chie.
Sementara itu, program studi product design engineering berlandaskan ilmu teknik industri yang menggunakan sumber daya secukupnya dan tak berlebihan. Output dari program studi ini adalah mahasiswa akan mampu menciptakan ide-ide problem solving dan produk hasil inovasi yang nilai gunanya bertambah.
BASE merupakan program joint venture antara ASO College, salah satu sekolah robotik terkemuka di Jepang, dengan Binus University. Program kerjasama ini membuat kedua institusi pendidikan itu memiliki peran yang lebih dari sekadar kerjasama.
"Joint venture ini merupakan proses 'perkawinan' antara ASO College dan Binus. Jadi, ada tabungan bersama yang berasal dari gabungan pendanaan keduanya," ujar Ho Hwi Chie, Dean of Binus ASO School of Engineering, di Kampus Kijang Binus University, Rabu (10/12/2014).
BASE sendiri merupakan satu-satunya sekolah untuk jurusan bidang robotik di Indonesia. Sekolah ini mencoba menggabungkan antara mesin dan komputer dalam satu produk engineering.
Sekolah tersebut memiliki dua program studi utama, yakni Automotive Robotic Engineering dan Product Design Engineering. Kedua program studi itu sama-sama fokus pada bidang teknik, tapi berbeda pada eksekusinya.
"Automotive robotic engineering lebih mempelajari otomatisasi dalam bidang kendaraan bermotor, sementara product design engineering menciptakan karya-karya fungsional yang membantu dalam kehidupan manusia tapi dengan harga ekonomis," jelas Ho Hwi Chie.
Mahasiswa BASE program studi automotive robotic engineering berusaha membuat benda mati, dalam hal ini kendaraan bermotor, memiliki “pikiran” atau intelegensia. Salah satu proyek yang tengah mereka kerjakan adalah sebuah prototipe mobil yang mampu melambatkan lajunya dengan otomatis.
"Kita sedang membuat prototipe mobil yang apabila melanggar marka jalan, maka ia akan otomatis melambat. Ini berfungsi untuk mengurangi kecelakaan ketika mengantuk karena mobil akan mengurangi kecepatannya dan pengendara mobil akan bangun begitu sadar mobilnya melambat," jelas Ho Hwi Chie.
Sementara itu, program studi product design engineering berlandaskan ilmu teknik industri yang menggunakan sumber daya secukupnya dan tak berlebihan. Output dari program studi ini adalah mahasiswa akan mampu menciptakan ide-ide problem solving dan produk hasil inovasi yang nilai gunanya bertambah.
Rektor Binus University Prof Harjanto Prabowo (kedua dari kiri) dan CEO of ASO College Group, Yutaka Aso, pada jumpa pers Binus-ASO School of Engineering (Base) di The Joseph Wibowo Center, Senin (25/8/2014).
Selanjutnya, Ho Hwi Chie menjelaskan, BASE melihat bahwa orang Indonesia
memiliki kegemaran di bidang otomotif. Karena itulah, mereka kemudian
memiliki misi menyediakan sebuah lembaga yang akan mengakomodasi
kebutuhan tersebut. Selain itu juga untuk menciptakan kemampuan anak
bangsa lebih baik lagi.
"BASE mencoba mempersiapkan bangsa
Indonesia untuk siap menghadapi AFTA 2015. Jangan sampai anak bangsa
malah jadi penonton di negeri sendiri," ujar Ho Hwi Chie.
Dia
menambahkan, pembentukan BASE sebagai sekolah robotik satu-satunya di
Indonesia bukan tanpa alasan. Selaku selaku induk utama BASE, pihak
Binus University melihat adanya kesempatan yang terbuka lebar bagi
lulusan BASE.
"Artinya, pasarnya sebetulnya ada. Ada harapan bagi
orang-orang Indonesia, bahkan dunia, untuk memaksa membeli
barang-barang dari luar negeri. Nah, kenapa kita tidak ciptakan sendiri.
Cuma, ilmu-ilmu robotik ini masih kurang mendapatkan perhatian, dan
kita malah fokus pada ilmu-ilmu dasar," jelas Ho Hwi Chie.
Untuk automotive robotic engineering, lulusan BASE bisa menjadi product development engineer, automation system engineer, simulation engineer, factory automotive engineer, dan project engineer.
Untuk tujuan itu, ada beberapa jenjang karier yang disasar dari kedua program studi tersebut. Untuk automotive robotic engineering, lulusan BASE bisa menjadi product development engineer, automation system engineer, simulation engineer, factory automotive engineer, dan project engineer. Sementara itu, lulusan product design engineering diharapkan mampu menjadi product
planning engineer, project design engineer, digital modeler engineer,
digital product engineer, dan applied product manufacturing.Bagaimana kuliah robot?
BASE
merupakan sebuah sekolah robotik khusus untuk lulusan IPA di SMA-nya.
Hal ini dikarenakan lulusan IPA telah memiliki dasar ilmu pengetahuan
yang digunakan di BASE.
"Anak-anak yang penting itu dari IPA.
Kalaupun ada dari IPS akan ada tes matematika tertentu. Hanya saja, kita
tidak menyarankan hal itu," kata Ho Hwi Chie.
Selain itu, BASE
juga mengadakan tes tertulis dan wawancara untuk menguji kelayakan calon
mahasiswanya. Program beasiswa pun tak luput dari sekolah ini.
"Kita
ada program beasiswa, syaratnya nilai kuliahnya harus baik dan IP ada
di atas 3,00 dan beasiswa itu bisa didapat setelah mereka menjalani
perkuliahan di BASE," kata Ho Hwi Chie.
Joint venture
dengan Jepang ini semakin terasa dengan kehadiran dosen-dosen asal ASO
College. Para mahasiswa juga mendapatkan esktrakurikuler bahasa Jepang
guna memperkuat kemampuan bahasa Jepangnya selama periode magang di
Jepang.
"Jadi, di sini ada program internship di waktu antara
semester enam dan tujuh. Mereka dikirim ke Jepang untuk merasakan
pekerjaan-pekerjaan yang mereka pelajari di BASE," jelas Ho Hwi Chie.
| Editor | : Latief |